Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Pengalaman Dan Tips Berlibur Ke Bromo Bersama Bayi, Lewat Malang Ke Wonokitri


Episode : Road Trip Ke Bromo Dari Malang Ke Wonokitri Pasuruan


Assalamu'alaikum :)

Ya ampuunn, banyak banget hal yang harus di posting, tapi problem emak-emak selalu menghalangi saya, apalagi jikalau bukan alasannya waktu. Giliran ada waktunya, eh habis digunakan buat balas-balasin komen dan berkunjung balik ke blog teman-teman.

Ya semacam mom blogger lyfe kali ya, hahaha.
Sampai-sampai bisnis online nya sudah semacam penuh sarang laba-laba, nyaris gak keurus.
Ya gimana lagi? ngeblog masih lebih memungkinkan bagi seorang SAHM punya baby dan tanpa ART kayak saya, ketimbang ngurus bisnis online yang mana gak ada jam kerja niscaya dan harus standby kapanpun.

Okeh, enough! kenapa malah bahas hal itu yak hahaha.

Jadi, beberapa postingan saya skip dulu, pengen nulis wacana liburan semi unplanned kami Sabtu kemaren, mumpung masih hangat dan saya very very excited ingin membagikan banyak tips dari pengalaman saya tersebut.

Alkisah, abang Darrell sudah bosan sebosan-bosannya (padahal emaknya yang bosan) akan liburan kepanjangannya yang seakan tak bertepi, menanti waktu masuk sekolah yang tinggal seminggu terasa setahun, sehingga kami ingin mengajak beliau berlibur sekali lagi, alasannya liburan kemaren yang berbentuk road trip tak terjadwal sama sekali gak menciptakan beliau puas main.

Awalnya kami ingin mengajak beliau ke pantai di Watu Dodol, Banyuwangi. Gak mau terjadi menyerupai kejadian liburan tak terjadwal kemaren.
Baca : Mendadak Traveling Keliling Pulau Jawa Bersama Bayi 8 Bulan (Part 1)
Maka saya sebelumnya sudah mencari-cari info terlebih dahulu.
Karena ternyata jarak Banyuwangi tersebut dari Sidoarjo nyaris sama dengan jarak ke Jogjakarta, jadilah kami berpikir, mengapa gak ke Jogja saja? biar si abang puas main pasir di pantai Parangtritis menyerupai 3 tahun lalu.
Baca : Mendadak Jojga, Lalu Semarang!
Ternyata, pas saya bikin itenirary nya, saya malah menemukan bahwa di Jogja banyak tempat wisata ramah anak yang HTMnya juga lumayan.
Tiba-tiba saya termangu, "eh, ngapain kita jauh-jauh ke Jogja ya? di Batu kan banyak banget yang kayak gituan, bahkan banyak yang belum pernah kami kunjungi."

Pas ngomong ke papi dan abang Darrell, mereka baiklah kami ke Batu saja, mau liburan ke Jatim Park 3 yang memang belum pernah kami datangin dan baca infonya, di sana ada Dino park, yang mana abang Darrell demeeenn banget ama dino (just like the other boy!)
(kisahnya nanti saya tulis dipostingan lain ya, kayak ada yang kepo aja hahaha)

Oke fix, kami semua baiklah ke Batu saja, lebih bersahabat dan pastinya lebih hemat BBM, waktu dan tenaga.
Saat mencari-cari info mengenai penginapan di Batu, tetiba saya melihat postingan orang yang di Bromo, pribadi deh terbersit, eh kenapa kita gak ke Bromo saja?
Si papi sih excited, cuman saya nya kembali keder pas ingat jikalau Bromo itu dingin banget nget, amis sulfur menyengat daaaannn terakhir kali kami ke sana (tahun 2014 awal) kami dipaksa wajib nyewa jeep alasannya kata orang di sana, kendaraan beroda empat jenis keluarga gak dapat masuk lautan pasir.

Okeh, gak jadi tetep ke Batu saja, tapi gak bikin kepo saya berakhir, saya malah sibuk melototin peta, mencari jalan dari Malang ke Bromo, yang mana berdasarkan logika saya, seharusnya gak perlu masuk lautan pasir, dapat pribadi ke Penanjakan saja, jadi kita liat Bromonya dari jauh saja.

Eh ketemu dong, ada jalan yang terlihat di Map, yang mana menghubungkan Malang dengan Penanjakan Bromo, bahkan ada 2 jalan yang dapat ditempuh, satu harus melewati lautan pasir, plusnya kita dapat ketemu bukit teletubbies dulu bahkan dapat melihat danau Ranu (menurut postingan orang-orang). Ada juga jalan yang pribadi menuju ke Penanjakan tanpa harus melewati lautan pasir, seharusnya rute tersebut dapat dilewati kendaraan beroda empat pribadi, gak perlu menyewa jeep, kan kita gak perlu turun ke lautan pasir, begitu pikir saya.

Singkat cerita, sesudah menghabiskan seharian pertama di Jatim Park 3, keesokan harinya kami sepakat akan road trip ke Bromo.

Tentang Gunung Bromo dan Kunjungan Kami


Gunung Bromo ialah sebuah gunung berapi aktif yang terletak di Jawa Timur.
Gunung ini mempunyai ketinggian 2.329 meter di atas permukaan maritim dan berada dalam empat wilayah kabupaten, yakni Kabupaten Probolinggo, Kabupaten Pasuruan, Kabupaten Lumajang, dan Kabupaten Malang.
Bentuk badan Gunung Bromo bertautan antara lembah dan ngarai dengan kaldera atau lautan pasir seluas sekitar 10 kilometer persegi.
Gunung Bromo mempunyai sebuah kawah dengan garis tengah ± 800 meter (utara-selatan) dan ± 600 meter (timur-barat). Sedangkan daerah bahayanya berupa bulat dengan jari-jari 4 km dari sentra kawah Bromo.(sumber : Wikipedia)

Kata Bromo sendiri berasal dari bahasa sangsekerta "Brahma" yaitu salah seorang tuhan utama bagi agama Hindu. Dalambahasa Tengger dieja 'Brama".
Tengger sendiri berasal dari adonan nama Roro Anteng dan Joko Seger, yang mana diyakini sebagai leluhur para masyarakat yang menghuni daerah sekitar gunung Bromo.
Saya pernah baca sebuah buku, yang entah itu beneran atau dongeng jikalau mereka berdua ialah raja dan permaisuri yang lari dari kerajaan Majapahit dan menemukan lokasi yang subur di sekitar gunung Bromo kemudian memutuskan membuka lahan pertanian disitu.

Kembali ke kisah kami berlibur di Bromo.

Ini kali ke 5 (kalau gak salah) saya mengunjungi Bromo.
Pertama kali jikalau gak salah di tahun 2002 atau 2003 ya?, waktu itu saya ke sana dengan menumpang bis dan angkot dari Probolinggo ke Bromo. Saya diajak oleh sahabat kos beserta si pacar.
Dulu mah tujuan wisata ke Bromo hanya mengunjungi kawahnya saja. dan sesudah saya nyaris metong sesak napas gegara gak tahan dinginnya, dini harinya saya amazed pada diri sendiri gegara dapat jalan kaki dari hotel Cemara Indah Bromo, hingga ke kawah gunung Bromo dan kembali lagi ke hotel tanpa sekalipun pemberian kuda atau lainnya.
Sungguh saya percaya dengan kehebatan minuman berenergi, dulu jikalau gak salah saya disuruh minum Ekstra Joss ama temen saya hahaha.
Meskipun sesudah hingga kos, saya tidur nyaris 24 jam saking capek dan pegalnya.

Berikutnya, saya mengunjungi Bromo di tahun 2008 (kalau gak salah), tapi kami gak nginap.
Lalu selanjutnya di tahun 2010, kami menginap di hotel yang sama, berdua saja (pan udah nikah hahaha), ketika itulah kami pertama kalinya di dini hari buta naik motor mengikuti orang-orang yang mana bukannya menuju kawah malah menuju ke suatu jalan yang pendakiannya curam minta ampun.
Dan ketika itulah kami pertama kalinya hingga ke Penanjakan.

Selanjutnya di tahun 2014, kami tiba sesudah menikmati malam tahun gres bersama abang Darrell yang ketika itu berusia 3 tahun.
Saat tiba di tengah jalan masih beberapa KM dari lokasi hotel bersahabat kawah, kami dicegat beberapa orang, di minta membayar tiket masuk (lupa berapaan) dan dipaksa menyewa jeep.
Kami menolak, dan bertanya mengapa dipaksa sewa jeep, orang-orang tersebut menyampaikan alasannya jikalau kendaraan beroda empat jenis keluarga gitu gak dapat masuk lautan pasir.
Alhasil, ketika itu kami cuman puas menikmati gunung Bromo dari jauh, di sekitar hotel yang mana terlihat gunung Bromo dan gunung Batok.

Thats way, berikut ini saya berpikir mencari jalan, apakah ada rute yang dapat ditempuh tanpa harus turun ke lautan pasir.

Road Trip Dengan Rute Semi Off Road Yang Menantang 


Jumat, 13 Juli kemaren, sesudah check Out dari villa di Batu yang kami tempati (review di postingan mendatang ya), sekitar pukul 10.30 kamipun bertolak ke Malang. Di daerah Malang bersahabat UMM kami mampir makan siang di rumah makan Padang yang murah abis, gimana gak murah, kami makan bertiga hingga kenyang cuman habis 34ribu saja (penting dibahas!lol), jadi jikalau teman-teman lagi ada di Malang dan ingin makan kenyang tapi hemat wajib deh mampir di Nasi Padang Murah, jalan MT Haryono No 7-1 Dinoyo, Malang (depan Bank Mandiri, bersahabat kampus UMM)

Okeh lanjut.

Setelah makan, kami pribadi mengikuti panduan si mbak Google (lagi) menuju lokasi akhir, Penanjakan Bromo.
Sebenarnya si mbak Google menyarankan kami lewat jalur yang melewati desa Ngadas yang mana untuk ke Penanjakan kudu lewat lautan pasir dulu, tapi demi tidak bertemu lautan pasir, saya menentukan rute lain yang mana jalannya lebih berkelok tapi gak perlu turun ke lautan pasir.
Rute yang kami pilih, yang paling kanan bakal tembus di pintu masuk wilayah Malang,  tepatnya desa Ngadas. 

Sebelumnya, kami mampir sejenak di Masjid Hidayaturahman Brawijaya, daerah Kesatrian Blimbing alasannya si abang dan papidady kudu sholat Jumat.
Sambil menunggu saya menyuapin si bayi, yang Alhamdulillah liburan kali ini beliau gak kelaparan kayak liburan unplanned kami di Jakarta.

Kelar sholat Jumat, kami berangkat lagi mengikuti aba-aba si mbak Google, sebelumnya mampir mengisi BBM supaya gak ada drama kehabisan BBM ketika berada di tengah hutan belantara hahaha.

Perjalanan di Malang kota terasa mulus dan lancar, hingga akibatnya di pertigaan jalan Raya Pakis, yang mana petunjuk jalan menjelaskan bahwa Bromo harus mengambil jalan lurus, namun kami menentukan belok kiri masuk ke jalan Ledok Dowo atau Jalan Raya Pakisjajar (CMIIW).
Sampai di situ, jalan mulai mengecil, perasaan mulai gak yummy alasannya takut ambil jalan yang salah (you know lah si mbak Google itu gak kira-kira jikalau milihin jalan, biar kate jalan buat orang doang disuruh lewat pakai mobil, heh!)

Lepas jalan Ledok Dowo, kami belok kanan ke jalan Raya Jabung, di situ mulai terasa deg-degan hati ini. Jalanan kecil, rusak dan penuh debu, ada beberapa alat berat dan orang-orang yang sedang mengerjakan pelebaran jalan.
Lepas itu masuk ke jalan Kemiri yang mulai sepi, hanya ada perkebunan dan beberapa tempat hutan.
jalanan mulai menanjak dan menurun dengan sadis, hati mulai gak karuan berdetak.
Atuh mah saya takut banget aslinya lewat jalanan yang ada jurangnya, saking takutnya saya gak sadar jikalau terus mengunyah kacang telur hingga habis sebungkus sendirian, lol.

Masyarakat Buton yang jalannya rusak padahal bersahabat tambang aspal jangan sedih, di Jawa juga masih banyak kok jalanan rusak, hehehe
Perjalanan penuh tantangan yang bikin bulu kuduk merinding belum berakhir, di jalan raya Kemiri dan jalan Raya Gondang Kemiri, hutan dan jurang menganga disamping kami. Jalananpun kecil dan rusak.
Bahkan ada belokan tajam dengan jurang menganga serta jalan kecil menanti kami, beruntung ada orang-orang yang memandu kendaraan beroda empat dalam 2 arah, alasannya jalanannya sempit dan menantang, maka kendaraan roda 4 harus bersabar melewatinya satu persatu.

Saking seremnya jalanan, si abang yang biasanya dingin aja lewat jalanan manapun berujar jikalau menakutkan dan serem.
Si papi dengan damai malah tertawa, katanya : "ya emang gini jikalau petualangan di hutan, malah asyik dapat ingat terus ama Allah, kan serem jadi nyebut (Allah) mulu, coba jikalau di mall, mana ingat Allah?"
Bener juga ya? Makanya petualangan di alam itu memang lebih baik ketimbang ngemall mulu.

Jalanan serem yang penuh jurang menganga dan berkelok setidaknya kami lewati 2 kali, sebelum memasuki daerah Kletak juga ada jurang yang serem abis.
Pemandangan nya indah ya, tapi dalam dunia faktual ini jurang yang serem jikalau dipandang dari dalam mobil, hiii

Setelah perjalanan yang menyeramkan tersebut, akibatnya kami hingga disebuah pertigaan yang mana belok kanan ada keterangan ke penanjakan Bromo, tapi si mbak Google malah menyarankan kami belok kiri dan menempuh jalan berkelok yang ujung-ujungnya ketemu lagi ama jalan bersahabat belok kanan tersebut, si papi hendak belok kanan, namun alasannya ada seorang penduduk lokal yang mengejar kami untuk menyampaikan jeep ke penanjakan, kami jadi ilfeel duluan.
Demi kesopanan saya meminta papi berhenti dan bertanya apa maunya, katanya beliau memberi info jikalau kami salah jalan, jalan menuju ke Bromo ialah belok kanan, belok kiri tersebut ialah jalan menuju ke semacam wisata yang belum jadi, namanya Pelataran Bromo.

Sayapun menolak dengan alasan mau lihat-lihat di depan dulu, nanti balik lagi ke situ, eh sesudah kami ngotot si perjaka tersebut gres menyampaikan jikalau ybs punya jeep yang dapat disewa.
Yaelah si masss...si massss... mbok ya to the point saja, gak usah berputar-putar.

Kami kemudian melanjutkan perjalanan yang GaJe tersebut. Mulai dikata Gaje alasannya saya mulai mencurigai si mbak Google, kenapa pula kami disuruh muter-muter padahal ada jalan yanglebih dekat? perbedaannya itu panjang banget pula.
GaJe nya lebih bertambah sesudah si bayi terbangun dan cranky entah alasannya dingin or something. Si mbak Google tanpa permisi tiba-tiba merubah rute tanpa permisi.
Belum juga terang saya perhatikan, tiba-tiba sinyal hilang, map jadi blank, hadehhh...

Si papi hendak putar balik tapi tiba-tiba sinyal tiba kembali dan kami memutuskan mengikuti rute awal yang ditunjukan si mbak Google.

Tapi tiba-tiba kami makin ragu, betapa enggak? rute tersebut gak biasa banget, kami disuruh lewat jalanan kecil yang mana sisi kanannya tebing dan sisi kirinya jurang yang menganga.
Seketika saya mengunyah kacang telur sambil berzikir dan istigfar perlahan (gak nyambung yaaak, lol)
Waktu sudah semakin sore, sudah sekitar pukul 15.30, kabut mulai menghalangi dan bikin kami makin merinding, seketika terbayang betapa hutan-hutan di pulau Jawa tersebut semacam menyimpan sebuah misteri dan rahasia. hiiihhh merinding saya menulis ini.

Anehnya, sinyal HP penuh, tapi berdasarkan Google kami harus belok kiri ke sebuah jalan besar, tapi gak ada sama sekali jalan kiri yang dimaksud, yang ada cuman jalan lurus di tepi jurang yang kecil banget, syukur Alhamdulillah jalanan sepi, cuman berpapasan dengan beberapa sepeda motor, coba jikalau papasan dengan mobil, dijamin saya teriak-teriak ngeri gegara kami ada di posisi jurang hii..

Alhamdulillah, sesudah menempuh waktu sekitar 30 menit diperjalanan yang angker tersebut, kamipun bertemu desa yang berjulukan Wonokitri. Dan hanya beberapa menit dengan menempuh perjalanan yang lagi-lagi si mbak Google atau emang hal yang gak masuk logika sedang terjadi, kami disuruh menempuh jalan yang gak masuk budi dong.
Sudahlah jalanannya mendaki tajam, rusak pula, dan gak ada kendaraan beroda empat lewat situ.
Alhamdulillah, setelahnya sampailah kami di pintu gerbang yang mana kami ditahan lagi oleh beberapa orang.

Pintu masuk tempat taman nasional Bromo Tengger Semeru dari wilayah Wonokitri Pasuruan
Mereka meminta kami ke dalam pos dulu, tapi kami terlalu malas untuk turun, kami cuman menjelaskan mau ke atas (penanjakan) dan gak bakal turun ke lautan pasir.
Tapi si orang-orang tersebut melarang kami, saya yang gak suka basa busuk kepanjangan bertanya, apa alasannya kendaraan beroda empat pribadi gak boleh masuk, toh medannya juga gak seberat jikalau kami ke lautan pasir.
Barulah si orang tersebut jujur, katanya memang sudah peraturan dari paguyuban yang mana sudah disetujui oleh bupati ke 4 kabupaten (Pasuruan tempat kami ketika itu,  Probolinggo, Malang dan Lumajang).

Kami menanyakan berapa tarif jeep nya? katanya biasanya sekitar 500ribu (karena hari sudah sore).
Kamipun keberatan, rugi rasanya mengeluarkan duit segitu sedang hari sudah sore dan kabut di mana-mana, dapat dipastikan gunung Bromo gak bakal keliatan dari Penanjakan.

Karena itulah kami segera berbalik dan meninggalkan tempat itu.

Setelahnya saya manyun bin bingung, si papi memutuskan jalan terus mengikuti petunjuk, saya sudah malas liat Google Map, terserah deh si papi mau lewat mana, yang niscaya saya gak mau pulang lewat jalan tadi. Ngeri ngeri angker boookkk!

Aneh bin nyata, si papi dong menemukan jalan yang sedikit landai, mulus meski berkelok, sayangnya gak ada sinyal di sepanjang jalan tersebut, even XL (data internet saya) dan Simpati.
Di sebuah desa, tiba-tiba ada sinyal XL dan saya dapat mengakses Google Map, terlihat ternyata jalan tersebut menuju ke Pasuruan, dan di Map terlihat jikalau gak ada banyak rumah penduduk di sepanjang jalan tersebut, dapat dipastikan jikalau gak ada sinyal juga di hampir keseluruhan jalan tersebut.

Sambil jalan kami berunding, apa yang harus kami lakukan, akan pribadi pulang atau gimana? waktu itu abang Darrell sedang tidur dan beliau gak tau jikalau kami gak dibolehin masuk oleh orang-orang di pintu masuk, kasian aja gitu jikalau beliau berdiri dan tau jikalau gak dapat liat gunung Bromo.
Akhirnya si papi mengusulkan untuk kami masuk lewat jalur Probolinggo dan nginap di hotel sekitar Bromo.
Saya segera mencari hotel dan menemukan bahwa hotel-hotel tersebut pada penuh.
Lalu teringat, bukankah di daerah Wonokriti yang merupakan pintu masuk ke wilayah Bromo dari daerah Pasuruan juga ada banyak hotel (mestinya) kan harusnya yang masuk dari situ juga banyak.

Papi kemudian putar balik kembali ke daerah bersahabat pintu masuk tersebut untuk mencari penginapan, pertimbangannya adalah, daripada lewat Tongas Probolinggo, yang mana kami kudu mutar jauh lagi, sedang ketika itu kami udah bersahabat Bromo, mending kami nginap di situ saja, menanti waktu dini hari supaya gak rugi nyewa jeep.

Setelah naik ke atas lagi, kami mulai mencari penginapan.
Ternyata hotel di daerah sekitar pintu masuk daerah Pasuruan ini sangatlah terbatas, kami hanya mendapat data hotel Ancala Inn, itupun bekerjsama lebih menyerupai hostel hahaha.
Harganya pun fantastis, selengkapnya saya review di postingan berbeda saja yaa..

Setelah mutar-mutar cari alternatif lain dan menemukan 2 kenyataan eh ditambah 1 kenyataaan ding :
1. Jarang ada hotel di daerah tersebut, hanya ada homestay.
2. Harga homestay ada 2 macam, sekitar 200ribu - 300ribu untuk kamar doang dengan toilet di luar, dan sekitar 600ribu ke atas untuk yang berbentuk vila (kamar lebih dari 1 dan bahkan ada dapurnya).
3. Si bayi tetiba menghadiahi kami dengan amis khas nya, yaitu beliau poop sodara..lol.

Karena kami bawa bayi, yang mana akomodasi air panas serta selimut tebal ialah nomor 1 maka kami memutuskan menginap di hotel saja, alasannya di homestay rata-rata jarang menyediakan air panas.
Saya kagum deh ama orang sono yang tahan mandi pakai air dingin, itu bukan air dingin bookk, itu air es! lol.

Singkat cerita, kami akibatnya menginap di Hotel Ancala Inn, dan menanti dini hari demi petualangan ke Gunung Bromo.
Nantikan kelanjutannya di postingan part 2 ya, atuh mah ini udah kepanjangan, saya yang nulis aja sudah capek, gimana yang baca ya..

Oh ya, sebelum saya akhiri, ini beliau tips penting dari postingan kali ini.
  1. Jika memutuskan ke Bromo lewat Malang dan ingin masuk dari daerah Wonokitri Pasuruan, lakukanlah perjalanan di siang hari, jalanannya ngeri banget deh, sudah jalanan kecil, rusak berbatuan gitu plus jurang menganga, plus juga gak ada lampunya, gelap banget deh jikalau malam.
  2. Pastikan kondisi kendaraan beroda empat prima, tanjakan dan turunannya tidak mengecewakan sadis.
  3. Pastikan yang nyetir harus menguasai medan tanjakan dan turunan sadis.
  4. Isi penuh BBM dari Kota Malang, seingat saya sangat jarang POM Bensin di sepanjang perjalanan memasuki hutan.
  5. Tidak ada cara lain memasuki tempat wisata Bromo dengan kendaraan beroda empat pribadi, harus nyewa jeep! Makara siapkan dana minimal 600 ribu untuk sewa jeep ya. Biaya lainnya bakal saya bahas di postingan part 2.
  6. Kalau mau masuk murah di tempat Bromo, dapat dengan hiking berpuluh KM atau naik motor, motor pribadi masih diperbolehkan masuk.
  7. Kalau merencanakan ke Bromo tanpa menginap dari Malang, lebih baik ambil jalur utama lewat hutan Coban Pelangi, jikalau lihat di Map, kayaknya pintu masuk ada di desa Ngadas. Di sana niscaya juga sudah siap penyewaan jeep yang dapat membawa masuk ke semua wilayah wisata Bromo. Menurut postingan orang-orang, tempat rute tersebut lebih landai dan mulus.
Segitu saja tips kali ini, tips lengkapnya bakal saya tulis di part 2 ya..
Baca : Pengalaman Dan Tips Berlibur Ke Bromo Bersama Bayi (Part 2)


Ada yang pernah lewat jalur ini? share di komen yuk.
Semoga bermanfaat.


TPJ AV - 15 Juli 2018

Love